Senin, 18 Maret 2013

HUBUNGAN PSIKOLOGI DENGAN PEMBELAJARAN


BAB I
PENDAHULUAN
A.  LATAR BELAKANG
Psikologi merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan yang membahas mengenai masalah kejiwaan manusia, dan didalam dunia pendidikan ilmu psikologi ini digunakan untuk membantu mengenali jiwa anak didik dari tiga aspek yaitu kognitif, afektif dan psikomotor agar dalam proses belajar mengajar semakin lancar.
Berbicara mengenai hubungan psikologi dengan pendidikan dan pengajaran sesuai dengan makalah yang akan penyusun bahas begitu sangat erat sekali, karena dengan mempelajari ilmu kejiwaan seorang guru khususnya dapat memberikan pendidikan dan pengajaran sesuai dengan perkembangan anak didik artinya psikologi digunakan untuk pedoman dalam memberikan materi pendidikan dan pengajaran sehingga yang menjadi tujuan dalam pendidikan dan pengajaran berupa ranah kognitif, afektif dan psikomotor akan mudah tercapai.
Banyak berbagai buku yang membahas tentang tinjauan psikologis mengenai pendidikan dan pengajaran secara umum ,akan tetapi dalam pembahasan makalah ini penyusun akan berusaha mengkhususkan kembali pembahasan yaitu mengenai hubungan  psikologi dengan pembelajaran pendidikan agama islam. Gambaran mengenai pembahasan dalam makalah ini yaitu;
B.  RUMUSAN MASALAH
1.    Apa Pengertian Psikologi ..?
2.    Apa Pengertian Pembelajaran Pendidikan Agama Islam..?
3.    Hubungan Psikologi Dengan Pembelaran Pendidikan Agama Islam (PAI)...?
C. TUJUAN
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memberikan gambaran tentang tentang hubungan psikologi dengan pembelajaran pendidikan agama islam (PAI), sehingga para pendidik dalam memberikan pemahaman kepada siswa selalu, memperhatikan keadaan psikologi peserta didik, yang kemudian dapat mengkonstruk pemahaman peserta dengan maksimal.
D. MANFAAT PENULISAN MAKALAH
Manfaat penulisan makalah ini adalah memberikan pemahaman tentang hubungan psikologi dengan pembelajaran PAI, sehingga dalam proses pembelajaran didalam kelas selalu memperhatikan keadaan psikologi peserta didik.

BAB II
PEMBAHASAN
A.  PENGERTIAN PSIKOLOGI
Sebagaimana halnya Istilah – istilah ilmiah lain, kata psikologi juga merupakan istilah ilmiah yang berasal dari bahasa yunani. Secara etimologis, psikologi berasal dari yunani, yaitu kata psyche yang berarti “jiwa” dan logos yang berarti “ilmu”. Jadi secara harfiah, psikologi berarti ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang gejala – gejala kejiwaan.[1]
Sedangkan menurut poerbakawatja dan harahap “Psikologi merupakan cabang ilmu pengetahuan yang mengadakan penyelidikan atas gejala – gejala dan kegiatan jiwa”. Dari pengertian diatas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa penyelidikan yang dilakukan selain gejala –gejala dalam jiwanya sendiri, termasuk interaksi jiwa dengan lingkungannya.[2]
B.  PENGERTIAN PEMBELAJARAN PAI
Istilah “pembelajaran” sama dengan “instruction atau “pengajaran”. Pengajaran mempunyai arti cara mengajar atau mengajarkan. Dengan demikian pengajaran diartikan sama dengan perbuatan belajar ( oleh siswa ) dan Mengajar ( oleh guru ). Kegiatan belajar mengajar adalah satu kesatuan dari dua kegiatan yang searah. Kegiatan belajar adalah kegiatan primer, sedangkan mengajar adalah kegiatan sekunder yang dimaksudkan agar terjadi kegiatan secara optimal[3].
Pembelajaran adalah kegiatan yang bertujuan untuk membelajarkan siswa. Definisi lain menjelaskan pembelajaran adalah seperangkat kejadian yang mempengaruhi siswa dalam situasi belajar.[4]
Pembelajaran ialah membelajarkan siswa menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar, yang merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan. Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah, mengajar dilakukan oleh pihak guru sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik atau murid. Sedangkan menurut Corey sebagaimana yang dikutip oleh Syaiful Sagala Pembelajaran adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang secara disengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respons terhadap situasi tertentu, pembelajaran merupakan subset khusus dari pendidikan.[5] Pembelajaran merupakan aktualisasi kurikulum yang menuntut guru dalam menciptakan dan menumbuhkan kegiatan peserta didik sesuai dengan rencana yang telah diprogramkan.[6]
Dari definisi di atas dapat ditarik satu pemahaman bahwa, pembelajaran adalah proses yang disengaja dirancang untuk menciptakan terjadinya aktivitas belajar dalam diri individu. Dengan kata lain, pembelajaran merupakan sesuatu hal yang bersifat eksternal dan sengaja dirancang untuk mendukung terjadinya proses belajar internal dalam diri individu.
Sedangkan Pendidikan Agama Islam (PAI) merupakan sebutan yang diberikan kepada salah satu subyek pelajaran yang harus dipelajari oleh siswa muslim dan menjelaskannya pada tingkat tertentu.[7] Menurut Ahmad Tafsir, Pendidikan Agama Islam (PAI) berarti bidang studi Agama Islam.[8]
Pendidikan Agama Islam (PAI) ialah usaha yang lebih khusus ditekankan untuk mengembangkan fitrah keberagaman subyek peserta didik agar lebih mampu memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam. Selain itu PAI bukanlah sekedar proses usaha mentransfer ilmu pengetahuan atau norma agama melainkan juga berusaha mewujudkan perwujudan jasmani dan rohani dalam peserta didik agar kelak menjadi generasi yang memiliki watak, budi pekerti, dan kepribadian yang luhur serta kepribadian muslim yang utuh.[9]
Jadi pembelajaran PAI adalah suatu proses yang bertujuan untuk membantu peserta didik dalam belajar agama Islam. Pembelajaran ini akan lebih membantu dalam memaksimalkan kecerdasan peserta didik yang dimiliki, menikmati kehidupan, serta kemampuan untuk berinteraksi secara fisik dan sosial terhadap lingkungan.[10]



C. HUBUNGAN PSIKOLOGI DENGAN PEMBELAJARAN PAI
Pembelajaran adalah suatu proses terjadinya interaksi antara pelajar dan pengajar dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran , yang berlangsung dalam suatu lokasi tertentu dalam jangka satuan waktu tertentu pula. Proses pembelajaran berlangsung melalui tahap-tahap persiapan (desain pembelajaran), pelaksanaan (kegiatan belajar mengajar) yang melibatkan pengajar dan siswa, berlangsung di dalam kelas dan di luar kelas dalam satuan waktu untuk mencapai tujuan kompetensi (kognitif, afektif dan psikomotorik) dan selanjutnya dirumuskan dalam bentuk tujuan-tujuan pembelajaran.
Tidak dapat dipungkiri, bahwa antara proses perkembangan dengan proses belajar mengajar memiliki keterkaitan. Sehubungan dengan ini, setiap guru sekolah selayaknya memahami seluruh proses dan perkembangan manusia, khususnya siswa.
Pengetahuan mengenai proses dan perkembangan dan segala aspeknya itu sangat bermanfaat, antara lain[11]:
  1. Guru dapat memberikan layanan dan bantuan dan bimbingan yang tepat kepada siswa dengan pendekatan yang relefan denga tingakat perkembangannya.
  2. Guru dapat mengantisipasi kemungkinan – kemungkinan timbulnya kesulitan belajar siswa tertentu.
  3. Guru dapat memertimbangkan waktu yang tepat dlam memulai aktifitas proses belajar mengajar bidang studi tertentu.
  4. Guru dapat menemukan dan menetapkan tujuan – tujuan pengajaran sesuai dengan kemampuan psikologisnya
Dalam proses pembelajaran pendidikan agama islam, terjadi interaksi antara guru dan siswa. Dalam interakasi itu, terdapat peristiwa dan proses psikologis. Peristiwa dan proses psikologis ini sangat perlu untuk dipahamidan dijadikan rambu-rambu oleh para guru dalam memperlakukan peserta didik secara tepat.
Guru agama dalam proses pendidikan agama islam, sangat diharapkan mampu menata lingkungan psikologis ruang belajar sehingga mengandung atmosfer (suasana perasaan) iklim kondusif yang memungkinkan para siswa mengikuti proses belajar dengan tenang dan bergairah.
Ada beberapa faktor yang juga harus diperhatikan oleh guru dalam proses pembelajaran pendidikan agama islam. Faktor ini terdiri dari dua aspek, yaitu aspek Fisiologis (bersifat jasmaniah) dan faktor psikologis (bersifat rohaniah) dan kelelahan (bersifat jasmaniah dan rohaniah).
1.  Aspek Fisiologis
Faktor-faktor fisiologis adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik individu. Faktor-faktor ini dibedakan menjadi dua macam. Pertama, keadaan tonus jasmani. Keadaan tonus jasmani pada umumnya sangat memengaruhi aktivitas belajar seseorang. Kondisi fisik yang sehat dan bugar akan memberikan pengaruh positif terha­dap kegiatan belajar individu. Sebalikrtya, kondisi fisik yang lemah atau sakit akan menghambat tercapainya hasil belajar yang maksimal. Oleh karena keadaan tonus jasmani sangat memengaruhi proses belajar, maka perlu ada usaha untuk menjaga kesehatan jasmani. Cara untuk menjaga kesehatan Jasmani antara lain adalah: 1) menjaga pola makan yang sehat dengan memerhatikan nutrisi yang masuk ke dalam tubuh, karena kekurangan gizi atau nutrisi akan mengakibatkan tubuh cepat lelah, lesu, dan mengantuk, sehingga tidak ada gairah untuk belajar; 2) rajin berolahraga agar tubuh selalu bugat dan sehat; 3) istirahat yang cukup dan sehat.
Kedua, keadaan fungsi jasmani/fisiologis. Selama proses belajar berlangsung, peran fungsi fisiologi pada tubuh manusia sangat memengaruhi hasil belajar, terutama pancaindra. Pancaindra yang berfungsi dengan baik akan mempermudah aktivitas belajar dengan baik pula. Dalam proses belajar, pancaindra merupakan pintu masuk bagi segala informasi yang diterima dan ditangkap oleh manusia, sehingga manusia dapat mengenal dunia luar. Pancaindra yang memiliki peran besar dalam aktivitas belajar adalah mata dan telinga. Oleh karena itu, baik guru maupun siswa perlu menjaga pancaindra dengan baik, baik secara preventif maupun yang,bersifat kuratif, dengan menyediakan sarana belajar yang memenuhi persyaratan, memeriksakan kesehat­an fungsi mata dan telinga secara periodik, mengonsumsi makanan yang bergizi, dan lain sebagainya.[12]

2.  Aspek psikologis
Faktor-faktor psikologis adalah keadaan psikologis seseorang yang dapat memengaruhi proses belajar. Bebera­pa faktor psikologis yang utama memengaruhi proses belajar adalah kecerdasan siswa, motivasi, minat, sikap, dan bakat.
a.    Kecerdasan/inteligensi siswa
Pada umumnya kecerdasan diartikan sebagai kemampu­an psiko-fisik dalam mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan melalui cara yang tepat. Dengan demikian, kecerdasan bukan hanya berkaitan dengan kualitas otak saja, tetapi juga organ-organ tubuh yang lain. Namun bila dikaitkan dengan kecerdasan, tentunya otak merupakan organ yang penting dibandingkan organ yang lain, karena fungsi otak itu sendiri sebagai pengendali tertinggi (executive control) dari hampir seluruh aktivitas manusia.
Kecerdasan merupakan faktor psikologis yang paling penting dalam proses belajar siswa, karena itu menenentukan kualitas belajar siswa. Semakin tinggi tingkat inteli­gensi seorang individu, semakin besar peluang individu tersebut meraih sukses dalam belajar. Sebaliknya, semakin rendah tingkat inteligensi individu, semakin sulit indivi­du itu mencapai kesuksesan belajar. Oleh karena itu, perlu bimbingan belajar dari orang lain, seperti guru, orangtua, dan lain sebagainya. Sebagai faktor psikologis yang penting dalam mencapai kesuksesan belajar, maka pengetahuan dan pemahaman tentang kecerdasan perlu dimiliki oleh setiap calon guru atau guru profesional, sehingga mereka dapat memahami tingkat kecerdasan siswanya.
Pemahaman tentang tingkat kecerdasan individu dapat diperoleh oleh orangtua dan guru atau pihak-pihak yang berkepentingan melalui konsultasi dengan psikolog atau psikiater. Sehingga dapat diketahui anak didik berada pada tingkat kecerdasan yang mana, amat superior, superior, rata­rata, atau mungkin lemah mental. Informasi tentang taraf kecerdasan seseorang merupakan hal yang sangat berhar­ga untuk memprediksi kemampuan belajar seseorang. ­Pemahaman terhadap tingkat kecerdasan peserta didik akan membantu mengarahkan dan merencanakan bantuan yang akan diberikan kepada siswa.


b.    Motivasi
Motivasi adalah salah satu faktor yang memengaruhi keefektifan kegiatan belajar siswa. Motivasilah yang mendo­rong siswa inginn melakukan kegiatan belajar. Para ahli psikologi mendefinisikan motivasi sebagai proses di dalam diri individu yang aktif, mendorong, memberikan arah, dan menjaga perilaku setiap saat (Slavin, 1994). Motivasi juga diartikan sebagai pengaruh kebutuhan-kebutuhan dan keinginan terhadap intensitas dan arah perilaku seseorang. Dari sudut sumbernya, motivasi dibagi menjadi dua, yairu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motiva­si intrinsik adalah semua faktor yang berasal dari dalam diri individu dan memberikan dorongan untuk melakukan sesuatu. Seperti seorang siswa yang gemar membaca, maka ia tidak perlu disuruh-suruh untuk membaca, karena memba­ca tidak hanya menjadi aktivitas kesenangannya, tapi bisa jadi juga telah menjadi kebutuhannya. Dalam proses belajar, motivasi intrinsik memiliki pengaruh yang lebih efektif, karena motivasi intrinsik relatif lebih lama dan tidak tergan­tung pada motivasi dari luar (ekstrinsik).
Menurut Arden N. Frandsen (Hayinah, 1992), yang termasuk dalam motivasi intrinsik untuk belajar antara lain adalah:
1)   Dorongan ingin tahu dan ingin menyelediki dunia yang lebih luas;
2)   Adanya sifat positif dan kreatif yang ada pada manusia dan keinginan untuk maju;
3)   Adanya keinginan untuk mencapai prestasi sehingga mendapat dukungan dari orang-orang penting, misal­kan orangtua, saudara, guru, atau teman-teman, dan lain sebagainya;
4)   Adanya kebutuhan untuk menguasai ilmu atau pengeta­huan yang berguna bagi dirinya, dan lain-lain.
Motivasi ekstrinsik adalah faktor yang datang dari luar diri individu tetapi memberi pengaruh terhadap kemauan untuk belajar. Seperti pujian, peraturan, tata tertib, reladan guru orangtua, dan lain sebagainya. Kurangnya respons dari lingkungan secara positif akan memengaruhi semangat belajar seseorang menjadi lemah.
c.    Minat
Secara sederhana, minat (interest) berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Menurut Reber (Syah, 2003), minat bukanlah istilah yang populer dalam psikologi disebabkan ketergantungannya terhadap berbagai faktor internal lainnya, seperti pemusatan perhatian, keingintahuan, motivasi, dan kebutuhan.
Namun lepas dari kepopulerannya, minat sama halnya dengan kecerdasan dan motivasi, karena memberi penga­ruh terhadap aktivitas belajar. Karena jika seseorang tidak memiliki minat untuk belajar, ia akan tidak bersemangat atau bahkan tidak mau belajar. Oleh karena itu, dalam konteks belajar di kelas, seorang guru atau pendidik lainnya perlu membangkitkan minat siswa agar tertarik terhadap materi pelajaran yang akan dipelajarinya.
Untuk membangkitkan minat belajar siswa tersebut, banyak cara yang bisa digunakan. Antara lain, pertama, dengan membuat materi yang akan dipelajari semenarik mungkin dan tidak membosankan, baik dari bentuk buku materi, desain pembelajaran yang membebaskan siswa untuk mengeksplor apa yang dipelajari, melibatkan seluruh domain belajar siswa (kognitif, afektif, psikomotorik) sehingga siswa menjadi aktif, maupun performansi guru yang menarik saat mengajar. Kedua, pemilihan jurusan atau bidang studi. Dalam hal ini, alangkah baiknya jika jurusan atau bidang studi dipilih sendiri oleh siswa sesuai dengan minatnya.
d.    Sikap
Dalam proses belajar, sikap individu dapat memeng­aruhi keberhasilan proses belajarnya. Sikap adalah gejala internal yang berdimensi afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespons dengan cara yang relatif tetap terhadap objek, orang, peristiwa dan sebagainya, baik secara positif maupun negatif (Syah, 2003). Sikap siswa dalam belajar dapat dipengaruhi oleh perasaan senang atau tidak senang pada performan guru, pelajaran, atau lingkungan sekitarnya. Dan untuk mengan tisipasi munculnya sikap yang negatif dalam belajar, guru sebaiknya berusaha untuk menjadi guru yang profesional dan bertanggung jawab terhadap profesi yang dipilihnya. Dengan profesionalitas, seorang guru akan berusaha membe­rikan yang terbaik bagi siswanya; berusaha mengembangkan kepribadian sebagai seorang guru yang empatik, sabar, dan tulus kepada muridnya; berusaha untuk menyajikan pelajar­an yang diampunya dengan baik dan menarik sehingga membuat siswa dapat mengikuti pelajaran dengan senang dan tidak menjemukan; meyakinkan siswa bahwa bidang srudi yang dipelajari bermanfaat bagi diri siswa.
e.    Bakat
Faktor psikologis lain yang memengaruhi proses belajar adalah bakat. Secara umum, bakat (aptitude) didefinisikan sebagai kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang (Syah, 2003). Berkaitan dengan belajar, Slavin (1994) mendefinisi­kan bakat sebagai kemampuan umum yang dimiliki seorang siswa untuk belajar. Dengan demikian, bakat adalah kemam­puan seseorangyang menjadi salah satu komponen yang diperlukan dalam proses belajar seseorang. Apabila bakat seseorang sesuai dengan bidang yang sedang dipelajarinya, maka bakat itu akan mendukung proses belajarnya sehingga kernungkinan besar ia akan berhasil.
Pada dasarnya, setiap orang mempunyai bakat atau potensi untuk mencapai prestasi belajar sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Karena itu, bakat juga diartikan sebagai kemampuan dasar individu untuk melaku­kan tugas tertentu tanpa tergantung upaya pendidikan dan latihan. Individu yang telah memiliki bakat tertentu, akan lebih mudah menyerap segala informasi yang berhubung­an dengan bakat yang dimilikinya. Misalnya, siswa yang berbakat di bidang bahasa akan lebih mudah mempelajari bahasa-bahasa lain selain bahasanya sendiri.[13]
f.     Sikap siswa
Sikap merupakan gejala internal yang berdimensi afektif, berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespons dengan cara yang relatif tetap terhadap objek tertentu, seperti orang, barang, dan sebagainya, baik secara positif maupun negatif. Sikap yang positif merupakan pertanda awal yang baik bagi proses belajar siswa. Sebaliknya sikap yang negatif akan menimbulkan kesulitan belajar bagi siswa yang bersangkutan.
g.    Kematangan dan kesiapan
Kematangan merupakan suatu tingkatan atau fase dalam pertumbuhan seseorang, di mana seluruh organ-organ biologisnya sudah siap untuk melakukan kecakapan baru. Kematangan belum berarti anak dapat melaksanakan kegi­atan secara terus-menerus, untuk itu diperlukan latilian-latihan dan pelajaran.
Dalam konteks, proses pembelajaran, kesiapan untuk belajar sangat menentukan aktivitas belajar siswa. Siswa yang belum siap belajar, cenderung akan berperilaku tidak kondusif, sehingga pada gilirannya akan mengganggu proses belajar secara keseluruhan.
Kesiapan atau readiness merupakan kesediaan untuk mem­beri respons atau bereaksi. Kesediaan itu datang dari dalam diri siswa dan juga berhubungan dengan kematangan. Kesiapan amat perlu diperhatikan dalam proses belajar, karena jika siswa belajar dan padanya sudah ada kesiapan, maka hasil belajarnya akan lebih baik.
3.  Kelelahan
Kelelahan dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu kelelahan jasmani (fisik) dan kelelahan rohani (bersifat psikis). Kelelahan jasmani terlihat dengan lemah lunglainya tubuh dan muncul kecenderungan untuk membaringkan tubuh (beristi­rahat). Kelelahan jasmani disebabkan oleh terjadinya kekacauan substansi sisa pembakaran di dalam tubuh. Sedangkan kelelahan rohani dapat dilihat dengan adanya kelesuan dan kebosanan.
Upaya mengatasi kelelahan dapat dilakukan dengan cara : (1) tidur yang cukup, (2) istirahat yang cukup, (3) mengusahakan variasi dalam belajar, (4) mengonsumsi obat yang tidak membahayakan bagi kesehatan tubuh, (5) rekreasi yang teratur, (6) olahraga secara teratur, (7) mengimbangi makan dengan makanan yang memenuhi syarat-syarat kesehatan, dan (8) konsultasi dengan dokter, psikiater, konselor, dan lain-lain apabila kelelahannya sangat serius.
4.  Lupa
Lupa adalah hilangnya kemampuan untuk menyebut atau memproduksi kembali apa-apa yang sebelumnya telah dipe­lajari. Gulo (1982) dan Rebber (1988) dalam Syah (1996) menyatakan bahwa lupa adalah ketidakmampuan mengenal atau mengingat sesuatu yang pernah dipelajari atau dialarni. Lupa juga berarti ketidakmampuan untuk mengingat kembali sesuatu yang telah dialami atau dipelajari untuk sementara waktu maupun jangka waktu lama. Dalam hal ini guru di­anjurkan untuk mendemonstrasikan dengan alas-alas peraga yang tersedia atau memberi tanda khusus pada kata istilah pokok yang tertulis di pagan tulis dengan kapur berwarna; (3) cobalah Anda selalu menyajikan pokok bahasan materi yang akan disajikan pada sesi berikutnya. Langkah ini penting ditempuli oleh guru, sebab keseimbangan antara pokok bahasan yang situ dengan lainnya dapat mengelola proses pengolahan materi bahasan tersebut dalam sistem akal siswa; (4) jika Anda menanyakan sesuatu yang berhubungan dengan materi yang telah Anda sajikan kepada seseorang siswa, sebaiknya Anda memerhatikan hal-hal sebagai berikut: (a) pertanyaan disampaikan secara akrab dan tidak menegangkan, (b) perta­nyaan hendaknya singkat, padat, dan jelas, dan tidak meng­andung banyak tafsiran, (c) pertanyaan hendaknya hanya mengandung sate inasalah agar siswa dapat memusatkan proses sistem akalnya dalam mencari respons, (d) alternatif jawaban pertanyaan tidak "ya" dan "tidak" saja, (e) apabila siswa tidak mampu menjawab, Anda jangan memaksanya, sebab itu akan kehilangan muka (malu) dan ingatannya menjadi kacau, (f) segeralah Anda tawarkan pertanyaan-pertanyaan kepada siswa lain agar siswa yang tidak mampu menjawab tadi dapat mengambil pelajaran dari kawannya sendiri, (g) apabila siswa berhasil menjawab, berilah pujian dan senyum seperlunya tanpa harus bersikap melecehkan siswa yang gagal menjawab pertanyaan Anda.
5.  Kejenuhan dalam Belajar
Kejenuhan bisa berarti padat atau penuh sehingga tidak mampu lagi memuat apa pun. jenuh juga bisa berati jemu atau bosan. Kejenuhan belajar adalah rentang waktu tertentu yang digu­nakan untuk belajar, tetapi tidak mendatangkan hasil (Reber 1988) dalam Syah, 1996: 165). Seorang siswa,yang mengalarni kejenuhan belajar merasa seakan-akan pengetahuan dan kecakapan yang diperolehnya dari hasil belajar tidak ada kema­juan.
Kejenuhan juga bisa melanda siswa apabila proses belajar terjadi secara monoton, pemaksaan frekuensi belajar dan lain-lain. Upaya mengatasi kejenuhan adalah dengan terlebih dahulu mencari penyebab timbulnya kejenuhan, selanjutnya memberikan solusi terhadap kejenuhan itu. Apabila faktor penyebab kejenuhan adalah kelelahan, maka solusinya adalah beristirahat.
Dalam perspektif Islam, berkenaan dengan keberhasilan belajar seseorang (siswa) terkait dengan faktor "hidayah". Betapa pun seseorang sudah berusaha secara maksimal, apabila tidak ada hidayah dari Allah. Hidayah dalam pandangan Islam bukan pasif tetapi aktif. Hidayah tidak akan datang apabila seseorang tidak melakukan apapun. Untuk memperoleh hasil belajar yang mak­simal, upaya belajar yang dilakukan seseorang (siswa) adalah dalam rangka. "menjemput hidayah".[14]

BAB III
PENUTUP

            Dari penjelasan diatas sudah jelas kiranya bahwa psikologi dengan pembelajaran pendidikan agama Islam (PAI) sangat terkait. Dalam setiap pembelajaran khususnya pendidikan agama islam selalu ada muatan psikologis, oleh kerenanya sangat naif sekali apabila dalam pembelajaran tidak menghubungkan unsur psikologis didalamnya sebagai alat untuk menggali keadaan psikologis peserta didik.
            Untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah direncanakan, maka seorang pengajar harus menciptkan suasana senyaman mungkin sehingga peserta didik merasa nyamaman dan bergairah dalam proses pembelajran dengan begitu peserta didik tidak akan mengalami, kesulitan, kejenuhan, dan lain sebagainya dalam proses pembelajaran










                                                                                   









DAFTAR PUSTAKA
Alex  Sobur. Psikologi umum, Bandung : Pustaka Setia. 2003
muhibbin Syah, Psikologi pendidikan.Bandung : PT. Remaja Rosda Karya, 2005
http://delsajoesafira.blogspot.com/2010/05/definisi-pembelajaran.html
http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2185558-pengertian-pembelajaran-pai/
Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran (Bandung : Alfabeta, 2003),
Dr.E.Mulyasa, M.Pd, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006),
H. M. Chabib Thoha, Metodologi Pengajaran Agama, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999 )
Ahmad Tafsir, Metodologi Pengajaran Agama Islam, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya,1995),
Muntholi’ah, Konsep Diri Positif Penunjang Prestasi PAI, (Semarang: Gunungjati dan Yayasan al Qalam, 2002)
Mukhtar, Desain Pembelajaran PAI, (Jakarta: Misaka Galiza, 2003), cet. III,
http://www.psychologymania.com/2012/06/manfaat-mempelajari-psikologi-belajar.html
http://ningningocha.wordpress.com/2011/06/10/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-belajar-dan-pembelajaran/
http://goodpaperr.blogspot.com/2012/11/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-belajar.html



[1] Alex  Sobur. Psikologi umum, Bandung : Pustaka Setia. 2003, hal. 19
[2] muhibbin Syah, Psikologi pendidikan.Bandung : PT. Remaja Rosda Karya, 2005, hal. 9
[3] http://delsajoesafira.blogspot.com/2010/05/definisi-pembelajaran.html
[4] http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2185558-pengertian-pembelajaran-pai/
[5] Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran (Bandung : Alfabeta, 2003), hlm. 61
[6] Dr.E.Mulyasa, M.Pd, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006), 90.
[7] H. M. Chabib Thoha, Metodologi Pengajaran Agama, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999 ), hlm. 4
[8] Ahmad Tafsir, Metodologi Pengajaran Agama Islam, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya,1995), hlm.8
[9] Muntholi’ah, Konsep Diri Positif Penunjang Prestasi PAI, (Semarang: Gunungjati dan Yayasan al-Qalam, 2002), cet.1, hlm. 18.
[10] Mukhtar, Desain Pembelajaran PAI, (Jakarta: Misaka Galiza, 2003), cet. III, hlm. 14.
[11] http://www.psychologymania.com/2012/06/manfaat-mempelajari-psikologi-belajar.html
[13] http://ningningocha.wordpress.com/2011/06/10/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-belajar-dan-pembelajaran/
[14] http://goodpaperr.blogspot.com/2012/11/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-belajar.html